jika melihat langsung kondisi hari-hari itu dan masih punya hati, seharusnya kalian menangis karena pemboikotan atas kaum muslim di Dammaj. Keluarga-keluarga banyak yang tidak punya beras dan tepung, tiada bahan bakar, orang-orang yang sakit pasrah saja karena obat-obatan di apotik-apotik amat langka. Orang-orang yang luka harus berjuang menahan sakit karena obat anti nyeri amat langka, dan masih kondisi hidup mati yang amat memprihatinkan yang andaikata bukan karena kelembutan Alloh dan rohmat-Nya pasti kami telah binasa karena lapar, belum lagi dahsyatnya mortir dan badai peluru rofidhoh.
بسم الله الرحمن الرحيم
Ditulis Oleh: Abu Zakaria Irham bin Ahmad Al-Jawiy
-semoga Alloh mengampuni dosa-dosanya-
Markiz Ahlissunnah – Darul Hadits Dammaj, 15 Muharram 1433H
Semoga Alloh menjaganya dari segala kejelekan
Pengantar
Telah sampai kepada kami sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada salah seorang pengelola ISNAD :
“Akhi..bisa tanyakan ke Abu Fairuz untuk ditanyakan ke Syaikh Yahya, “kenapa tempat lain seperti di Kitaf dan Hajur masih perang dengan rofidhoh, tapi Dammaj malah berdamai dengan rofidhoh ?” (Akhuna di Palu – Sulteng)
Berkata Abu Fairuz ” JazakAllohu khoyro, atas perhatian al-Akh (si penanya)….Ini telah dijelaskan oleh Syaikh Yahya, (bahwa) di Hajur muslimin tidak terkepung, mereka bisa beli makanan, minuman, obat dan senjata. Jalur bantuan juga tidak terblokir, di Kitaf juga begitu, bantuan dana dan senjata-senjata berat dari saudi terus mengalir, sementara di Dammaj ? jika antum lihat langsung kondisi hari-hari itu (silahkan baca di bagian yang telah diarsipkan “Gemuruh Lembah Dammaj” disini, ;ed) dan masih punya hati, antum harusnya menangis. Keluarga-keluarga banyak yang tidak punya beras dan tepung, tiada bahan bakar, orang-orang yang sakit pasrah saja karena obat-obatan di apotik-apotik amat langka. Orang-orang yang luka harus berjuang menahan sakit karena obat anti nyeri amat langka, dan masih kondisi hidup mati yang amat memprihatinkan yang andaikata bukan karena kelembutan Alloh dan rohmat-Nya pasti kami telah binasa karena lapar, belum lagi dasyatnya mortir dan badai peluru rofidhoh. Para saudara-saudara kita yang berhati baja saja menagis, melihat hantaman-hantaman akurat rofidhoh terhadap posisi thullab, apa hati antum tidak tersentuh saat mendengar suara pimpinan jaga di Gunung al-Barroqoh lewat telepon berkata ” kami semua telah terluka, tapi kami akan bertahan sampai mati …”. Lalu Abu Fairuz berkata “kami yang di pos bawah juga ditembaki dan bertekad demikian saat bantuan pertolongan dari bawah agar bisa bebas masuk jam 9 malam, tampak pemandangan memilukan, puluhan thullab bergelimpangan di punggung al-Barroqoh, total yang gugur karena kejadian itu 26 orang (diantaranya 2 ikhwah dari indonesia menjemput syahada disini, Akh Sholeh dan Abu Haidar -rahimahulloh- ;ed), yang luka 50 lebih. Tidak tersentuh hati antum dengan kejadian lain, setelah itu dimana 22 thullab terkepung di matras abdul karim sebagian telah gugur sebagian luka. 1 (satu) yang luka masih menelpon kebawah dalam kondisi lukanya terus mengucurkan darah, dan berkata “kalian wajib tolong kami…” hujan peluru mortir gagalkan upaya penyelamatan, akhirnya semua thullab disitu gugur (diantaranya 2 ikhwah dari indonesia, Muhammad Amin al-Amboniy dan Abul Jauhar Adam -rahimahulloh-;ed), apakah ini semua bukan udzur terima ajakan damai, sementara Rosululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam dengan 1400 shohabat saja damai dengan kuffar Makkah ? padahal Alloh telah menjamin akan bantuan dengan ribuan malaikat. Haruskah kami penuhi selera “penonton” untuk perang sampai mati ? masih ada jawaban penting yang lain (bahwa) itupun bukan kami yang minta damai, karena telah bertekad bertahan sampai mati dan tidak serahkan dammaj (bacalah kronologi “gemuruh lembah dammaj..” disini ;ed) tapi rofidhohlah yang serangannya selalu gagal dan mati lebih banyak -biindznillah-. (jadi) mereka tawarkan damai, Maka Syaikh Yahya kasih syarat-syarat yang berat yang isinya berupa kemuliaan AHLUSSUNNAH dan kehinaan rofidhoh, ketika rofidhoh dengan amat berat hati menampakkan pelaksanaan kesepakatan, maka harom bagi kami untuk menembak terus. Syaikh Yahya sampai kini masih berdo’a ” Ya Alloh balaskanlah DENDAM kami !, Ya Alloh hancurkanlah mereka !” dengan pengeras suara dan TIAP HARI dengan mikropon beliau bongkar kebusukan rofidhoh dan menyemangati ummat untuk perangi mereka (lihat dan dengar video seruan jihad al-Mujahid Syaikhuna Yahya al-Hajuri disini ;ed) “-selesai- 18 Shafar 1433H
* URL sumber, klik di sini ..