http://ibnulqoyyim.com

Temu Ulama dengan Bupati Cetak kirim sebagai e-Mail
Ditulis Oleh Web Admin   
Kamis, 13 Agustus 2009
Pertemuan Masyayikh dengan Bapak Bupati Bantul

Di sela-sela kesibukan menyampaikan durus ilmiah dan bimbingan kepada Ahlus Sunnah dalam acara Daurah Ilmiah ke-5 di Yogyakarta, para masyaikh menyempatkan untuk bertemu secara khusus dengan Bupati Bantul, Bapak Drs. Idham Samawi.

 

Bertepatan dengan hari Selasa, 6 Sya'ban 1430 H – 28 Juli 2009 M, dengan taufiq dan kemudahan dari Allah, para masyaikh : Asy-Syaikh 'Abdullah bin 'Abdirrahim Al-Bukhari, Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi Azh-Zhafiri, Asy-Syaikh 'Abdullah bin Shalfiq Azh-Zhafiri, dan Asy-Syaikh Ali bin Yahya Haddadi hafizhahumullah jami'an, dengan diiringi para asatidzah pengampu Daurah : Al-Ustadz Ruwaifi', Lc, Al-Ustadz 'Abdul Jabbar, Al-Ustadz 'Abdul Mu'thi Al-Maidani, dan Al-Ustadz Abdul Haq hafizhahumullah. Bertemu dengan Bapak Bupati Bantul di rumah Dinas Bupati. Pertemuan terjadi kurang lebih pada pukul 10.20 WIB, selama 30 menit.

 

Dalam pertemuan tersebut para Masyayikh mengungkapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bupati Bantul secara khusus, dan kepada Pemda Bantul secara umum. Rombongan juga menyerahkan cinderamata kepada Bapak Bupati Bantul.

 

Menanggapi penyampaian rombongan, Bapak Bupati Bantul mengungkapkan bahwa kunjungan ini merupakan kehormatan tersendiri bagi beliau. Beliau juga mengungkapkan rasa terima kasih atas pelaksanaan Kajian Ilmiah Nasional, yang menjelaskan Islam yang benar. Acara tersebut telah memberikan pencerahan kepada kaum muslimin di Bantul. Beliau bergembira dengan adanya kegiatan ini yang merupakan salah satu bentuk memakmurkan Masjid Agung Manunggal Bantul. Beliau berkeinginan agar masjid tidak hanya sekedar untuk shalat dan dzikir, tetapi juga digunakan untuk kegiatan kajian ilmiah, diskusi, dan pencerahan wawasan kepada kaum muslimin.

 

Bapak Bupati juga mengutarakan harapannya agar masyarakat Bantul bisa memahami Al- Qur'an dan As-Sunnah dengan benar. Beliau ingin masyarakat Bantul mengetahui tafsir Al-Qur'an yang benar. Beliau menambahkan bahwa di Bantul saat ini sedang diadakan program pemberantasan buta huruf Al-Qur'an di sekolah-sekolah.

 

Asy-Syaikh 'Abdullah Al-Bukhari memuji semangat dan harapan Bupati. Apa yang disampaikan oleh Bupati ini sejalan dengan apa yang telah disampaikannya ketika memberikan sambutan pada acara pembukaan Kajian Ilmiah Nasional di Masjid Agung Bantul, Sabtu (25/07). Asy-Syaikh Al-Bukhari juga mengungkapkan kesediaan membantu mewujudkan keinginan Bapak Bupati. Di antaranya dengan berusaha memberikan kajian di Masjid Agung Manunggal Bantul pada masa yang akan datang, bahkan menyatakan bersedia bila diminta membantu penyusunan kurikulum untuk sekolah-sekolah bila dibutuhkan. Seraya Asy-Syaikh Al-Bukhari kemudian kembali mengungkapkan rasa terima kasih kepada beliau.
Pada akhir pertemuan, Bapak Bupati Bantul meminta maaf atas segala kekurangan yang ada selama para masyayikh berada di Bantul. Bapak Bupati kemudian mengantarkan rombongan hingga teras rumah.
Beberapa hari kemudian, sebelum meninggalkan negeri Indonesia, para masyayikh menyempatkan diri menulis surat untuk Bapak Bupati Bantul, guna mengungkapkan kembali rasa terima kasih dan penghargaan kepada Bapak Bupati serta menyampaikan beberapa hal kepada beliau.
Demikianlah cara ahlus sunnah bermuamalah dengan penguasa kaum muslimin. Mereka memuliakannya dan tidak menjatuhkan kewibawaannya. Mereka menaati penguasa dalam hal-hal yang ma’ruf.
Inilah pula cara yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menyampaikan nasehat kepada penguasa, sebagaimana hadits beliau, dari shahabat ‘Iyadh bin Ghunaim:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانِ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاَنِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُو بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلاَّ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

 

“Barangsiapa yang hendak menasehati seorang penguasa, maka jangan dilakukan secara terang-terangan (di tempat umum atau terbuka dan yang semisalnya, pent). Namun hendaknya dia sampaikan kepadanya secara pribadi, jika ia (penguasa itu) menerima nasehat tersebut maka itulah yang diharapkan, namun jika tidak mau menerimanya maka berarti ia telah menunaikan kewajibannya.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi ‘Ashim, Al-Baihaqi. Dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani di dalam Zhilalul Jannah hadits no. 1096)

 

 

 

=========================================== 

(Sumber dikirim via eMail oleh Panitia Daurah Masyayikh 1430 H - 2009) 
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Audio Streaming .::

tekan tombol play, bila tak terdengar? klik di sini ..

20 Syabaan 1431 Hijriah
Statistik Web: 94931

Streaming Online .::

free counters

i-Radio SalafySiar