Allah mengutus beliau ﷺ ketika berusia empat puluh tahun, yaitu usia kesempurnaan.
Permulaan perkara kenabian pada diri Rasulullah ﷺ adalah mimpi (yang benar). Beliau ﷺ tidak melihat satu mimpi pun kecuali mimpi itu datang sejelas cahaya pagi.
Kemudian Allah Ta‘ālā memuliakannya dengan kenabian. Maka datanglah malaikat kepadanya saat beliau berada di Gua Hira’, dan beliau sangat menyukai menyendiri di dalamnya.
Maka yang pertama kali diturunkan kepadanya adalah (firman Allah):
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)
Kemudian beliau ﷺ berdiam (tidak menerima wahyu) selama masa yang Allah kehendaki, lalu Allah menurunkan wahyu kepadanya dengan firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
“Wahai orang yang berselimut, bangunlah lalu berilah peringatan. Dan agungkanlah Tuhanmu, serta bersihkanlah pakaianmu.” (QS. Al-Muddatstsir: 1–4)
Para ulama mengatakan bahwa beliau ﷺ diangkat sebagai Nabi dengan (wahyu) Iqra’, dan diutus menjadi rasul dengan (wahyu) al-Muddatstsir.
📗 Al-Fushūl fī Sīratir Rasūl karya Ibn Katsīr rahimahullāh, hlm. 93–97 dan Zādul Ma‘ād karya Ibnul Qayyim rahimahullāh, jilid 1 hlm. 82–84.
Sumber: lentera_salafiyah/2197



