Wednesday, April 15, 2026
No menu items!
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeManhajMalam Lailatul Qadr

Malam Lailatul Qadr

Malam Lailatul Qadr

[Lailatul Qadr; Malam ke-27]

Diriwayatkan dari ‘Ubaidullah bin Mu‘adz, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah mengabarkan kepada kami Syu‘bah, dari Qatadah, bahwa ia mendengar Mutharrif, dari Mu‘awiyah bin Abi Sufyan, dari Nabi ﷺ tentang Lailatul Qadr, beliau bersabda:
“Lailatul Qadr adalah malam ke-27.”
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

Aku berkata: [Ini adalah hadis sahih, para perawinya adalah perawi yang digunakan oleh al-Bukhari dan Muslim. Demikian pula Imam al-Albani mengatakan hal yang sama, dan sekelompok ulama hadis mensahihkannya. Orang yang melemahkannya dengan alasan mauquf tidak tepat. Aku telah menjawab hal itu dalam kitabku Tahqiq al-Qaul fi Ta‘yīn Lailatul Qadr].

Dari Zirr bin Hubaisy, ia berkata:
Aku bertanya kepada Ubay bin Ka‘b r.a., aku berkata:
“Sesungguhnya saudaramu, Ibnu Mas‘ud, mengatakan: Barang siapa shalat malam sepanjang tahun, pasti akan mendapatkan Lailatul Qadr.”
Maka Ubay berkata: [Semoga Allah merahmatinya, ia bermaksud agar manusia tidak bergantung (pada satu malam saja). Namun sesungguhnya ia tahu bahwa Lailatul Qadr itu ada di bulan Ramadan, dan ia berada pada sepuluh malam terakhir, dan ia adalah malam ke-27. Kemudian ia bersumpah tanpa pengecualian bahwa itu adalah malam ke-27].
Aku bertanya: “Dengan apa engkau mengatakan demikian, wahai Abu al-Mundzir?”
Ia menjawab: “Dengan tanda, atau dengan ayat yang diberitakan kepada kami oleh Rasulullah ﷺ, yaitu bahwa matahari pada pagi harinya terbit tanpa sinar yang menyilaukan.”
(Diriwayatkan oleh Muslim)

Dari Abu Dzar al-Ghifari r.a., ia berkata:
Rasulullah ﷺ shalat malam bersama kami di bulan Ramadan pada malam ke-23 hingga sepertiga malam pertama, lalu beliau bersabda:
“Aku kira apa yang kalian cari masih ada di depan kalian.”

Kemudian beliau shalat lagi pada malam ke-25 hingga pertengahan malam, lalu bersabda:
“Aku kira apa yang kalian cari masih ada di depan kalian.”
Kemudian kami shalat bersama beliau pada malam ke-27 hingga waktu subuh.

Abu Bakr Ibn Khuzaymah berkata: Lafaz “illa wara’akum” (kecuali di belakang kalian) menurutku termasuk dalam bab al-adhdād (kata yang memiliki makna berlawanan), maksudnya adalah “di depan kalian.” Karena sesuatu yang telah berlalu berada di belakang seseorang, sedangkan yang akan datang berada di depannya. Maka Nabi ﷺ bermaksud: “Aku kira apa yang kalian cari, yaitu Lailatul Qadr, ada pada malam yang akan datang, bukan pada malam yang telah berlalu.” Sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Dan di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas setiap kapal dengan paksa” (QS. al-Kahf: 79). Maksudnya: di depan mereka.

Ditulis oleh:
Fadhilah Syaikh Khalid bin Abdurrahman al-Mishri

RELATED ARTICLES
- Donasi Dakwah -spot_img

Populer Artikel

Tamu