Sunday, February 15, 2026
No menu items!
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeAqidah & AkhlaqMenjemput Berkah Di Bulan Suci

Menjemput Berkah Di Bulan Suci

MENJEMPUT BERKAH DI BULAN SUCI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Alhamdulillah, kita senantiasa bersyukur atas limpahan rahmat Allah kepada kita, sehingga pada malam hari ini Allah mudahkan dan beri kesempatan untuk bertemu di tempat ini, di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah di Ma’had Al-Imam Asy-Syafi’i. Semoga Allah ﷻ senantiasa memberi keberkahan.

Malam ini adalah malam nishfu Sya’ban, malam yang istimewa. Disebut dalam hadits Ibnu Majah dari sahabat Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa sesungguhnya Allah melihat para hamba-Nya pada malam nishfu Sya’ban, lalu Allah mengampuni dosa-dosa mereka kecuali dua golongan: orang yang musyrik menyekutukan Allah dan seorang yang memiliki perseteruan atau permusuhan dengan saudaranya; Allah tidak mengampuni dosanya kecuali setelah berdamai.

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa malam ini memiliki keutamaan. Kita berharap semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang meraih ampunan dari sisi-Nya. Namun, tidak diketahui adanya riwayat shahih yang menetapkan amalan khusus, misalnya shalat malam tertentu yang tidak dilakukan pada malam-malam lain. Tidak pula terdapat anjuran puasa khusus pada siang harinya, akan tetapi secara umum dianjurkan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, kecuali satu atau dua hari sebelum Ramadhan, kecuali bagi orang yang memang terbiasa berpuasa.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali seseorang yang memang terbiasa berpuasa.”

Bulan Sya’ban adalah bulan yang memiliki keutamaan, gerbang memasuki Ramadhan, bulan untuk membiasakan diri sebelum Ramadhan. Oleh karena itu Rasulullah ﷺ tidak memperbanyak puasa sunnah kecuali di bulan Sya’ban.

Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ tidak berpuasa sunnah dalam satu bulan lebih banyak dibanding di bulan Sya’ban.

Bahkan para ulama salaf menutup dan meninggalkan toko-toko mereka ketika bulan Sya’ban masuk untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an.

Bulan Ramadhan adalah bulan berkah, banyak keutamaan bagi yang ingin meraihnya, bulan yang paling dicintai oleh Rasulullah ﷺ, hingga Allah memilih Ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an. Allah ﷻ berfirman:
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an…”

Oleh karena itu Rasulullah ﷺ menyambut bulan suci Ramadhan dan menyampaikan berita gembira kepada para sahabatnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ apabila memasuki awal Ramadhan mengatakan kepada para sahabatnya:
“Sungguh telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang penuh berkah.”

Maka Nabi ﷺ menyifati Ramadhan sebagai bulan yang penuh keberkahan, banyak kebaikan. Allah telah menyediakan kebaikan bagi hamba-hamba-Nya, tinggal manusia memetiknya. Bagaikan pohon yang banyak buahnya, siap dipetik; siapa yang mau mengambil manfaat akan memetik dan menikmati, jika tidak maka ia berpaling.

Ramadhan disediakan bagi seluruh hamba untuk mendapat maghfirah, ampunan, serta dibebaskan dari api neraka. Itu semua telah disiapkan, tergantung manusia mau mengambil keutamaan atau lebih memilih jalan setan dibanding jalan Ar-Rahman.

Allah telah mewajibkan puasa di bulan Ramadhan, membuka pintu-pintu surga, menutup pintu-pintu neraka, dan menjadikan di dalamnya satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa tidak mendapatkannya maka ia terhalang dari kebaikan.

Maka kita berharap meraih keutamaan itu dengan memperbanyak amal saleh, memanfaatkan seluruh waktu dari bangun tidur hingga tidur kembali, berpindah dari ibadah satu ke ibadah lainnya.

Ketika bangun sahur dan menikmati makanan yang berkah, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bersahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan.”

Lalu menunggu shalat Subuh, melaksanakan shalat sunnah dua rakaat sebelum Subuh yang Nabi ﷺ sebut lebih baik daripada dunia dan seisinya.
Namun banyak manusia melewatkannya.

Kemudian ia shalat Subuh dan menjalani puasa yang Allah balas tanpa batas. Dalam hadits qudsi disebutkan:
“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang membalasnya.”

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan bahwa orang-orang yang diberi pahala tanpa batas adalah orang-orang yang bersabar, termasuk orang yang berpuasa.
Ramadhan dikenal sebagai bulan kesabaran, karena manusia pada dasarnya senang makan dan mendatangi keluarganya. Di bulan ini dilatih menahan lapar, hawa nafsu, dan menjauhi maksiat. Ini harus dicamkan: apakah puasa hanya sekadar meninggalkan makan dan minum? Banyak orang bisa melakukannya.

Allah ﷻ berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”

Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ mengatakan bahwa takwa itu di hati, seraya menunjuk ke dadanya.
Maka hakikat puasa adalah melatih jiwa, membersihkan hati dari syirik dan maksiat, agar menjadi hamba yang bertakwa.

Sebagian orang berpuasa hanya secara fisik, tetapi menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak berfaedah: catur, domino hingga menjelang Maghrib, atau di zaman sekarang bermain gawai berjam-jam. Kapan membaca Al-Qur’an? Kapan meningkatkan ketakwaan?

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan jahil, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”

Ada pula yang berpuasa tetapi tidak shalat. Apa manfaat puasanya bila demikian?

Yang dibutuhkan adalah mengisi Ramadhan dengan hal-hal bermanfaat: shalat wajib dan sunnah, shalat Tarawih di awal malam bila tidak mampu di akhir malam.

Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa jika seseorang shalat malam bersama imam sampai selesai, ia dicatat seperti shalat semalam suntuk.

Ramadhan juga menyediakan fasilitas besar berupa doa. Doa orang yang berpuasa adalah mustajab. Rasulullah ﷺ menyebutkan tiga golongan yang doanya tidak tertolak, salah satunya orang yang berpuasa.

Maka perbanyaklah doa pagi, siang, dan sore hari. Allah meletakkan ayat tentang doa setelah ayat-ayat puasa:
“Aku dekat, Aku mengabulkan doa orang yang berdoa.”

Sebagian remaja pagi bermain game, siang bermain game, sore bermain game, bahkan sebagian orang tua pun demikian. Ini adalah waktu yang terbuang tanpa amal saleh.

Allah memberi fasilitas dengan memperbanyak sedekah. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ adalah manusia paling dermawan, dan lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan.

Siapa yang memberi makan orang berpuasa akan mendapat pahala seperti orang yang berpuasa.

Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Dalam hadits disebutkan Jibril mendatangi Rasulullah ﷺ setiap malam Ramadhan. Para ulama mengambil pelajaran untuk memperbanyak tilawah siang dan malam.

Rasulullah ﷺ juga bersabda bahwa ketika Ramadhan datang, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Meski demikian, keburukan masih ada karena setan dari kalangan manusia pengikut hawa nafsu.

Pada saat itu sang Penyeru menyeru: wahai pencari kebaikan, datanglah; wahai pencari keburukan, berhentilah. Dan Allah membebaskan hamba-hamba-Nya dari api neraka setiap malam.

Kita berharap meraih keutamaan itu, dibebaskan dari api neraka, dimasukkan ke dalam surga—itulah kemenangan terbesar.

Celakalah orang yang tidak memanfaatkan Ramadhan yang hanya datang setahun sekali. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda tentang tiga orang yang merugi: orang yang disebut nama Nabi namun tidak bershalawat, orang yang mendapati Ramadhan lalu keluar darinya tanpa ampunan, dan orang yang mendapati kedua orang tuanya namun tidak menjadi sebab masuk surga.

Ramadhan bagaikan pohon penuh buah. Sangat rugi bila kita menyia-nyiakannya.

Kami mengingatkan agar menjaga keikhlasan, tidak menjadikan ibadah sebagai konten pamer. Shalat, sedekah, membaca Al-Qur’an, bahkan umrah, jangan sampai merusak keikhlasan dengan sorotan kamera, ingin dilihat orang.

Allah mencintai amalan tersembunyi, terutama sunnah. Dalam hadits tentang tujuh golongan yang dinaungi Allah, disebutkan orang yang menyembunyikan sedekah dan orang yang berdzikir sendirian hingga menangis.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa shalat sunnah paling utama dilakukan di rumah.

Demikian yang bisa kami sampaikan semoga bermanfaat.

Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan tahun ini dan berikutnya, serta memberi taufik untuk berpuasa dengan iman dan mengharap pahala.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

———–

Oleh:
Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Askari hafizhahullah

Transcript:
Muhdahrah Masjid Imam Asy-Syafi’i
Jl. Melati 1, Kota Pangkep
Senin, 2 Februari 2026 – Ba’da Shalat Magrib sampai selesai

Sumber:
Catatan Redaksi Media Dakwah Ahlussunnah wal Jamaah Pangkep
t.me/infokajiansalafysulawesi/30929

RELATED ARTICLES
- Donasi Dakwah -spot_img
- Donasi Dakwah -spot_img

Populer Artikel

Tamu