Sunday, February 15, 2026
No menu items!
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeFiqhHukum Memperbanyak Puasa Sunnah Di Bulan Sya’ban

Hukum Memperbanyak Puasa Sunnah Di Bulan Sya’ban

Hukum Memperbanyak Puasa Sunnah Di Bulan Sya’ban

Para ulama berbeda pendapat menjadi dua pendapat:

◼️ Pendapat pertama:

Hukumnya adalah sunnah. Ini adalah pendapat madzhab Hanafiyah, Malikiyyah, Syafiiyyah, dan sejumlah ulama dari Hanabilah.

Dalil mereka adalah:

✅ Hadits Aisyah _radhiyallahu anha_ ia berkata:

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ.

“Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyempurnakan puasa selama sebulan penuh kecuali puasa Ramadhan dan aku tidak pernah melihat Beliau paling banyak melaksanakan puasa (sunnah) kecuali di bulan Sya’ban.” (HR.Al-Bukhari:1968, Muslim:8/31)

✅ Dalam riwayat muslim:

وَلَمْ أَرَهُ صَائِمًا مِنْ شَهْرٍ قَطُّ أَكْثَرَ مِنْ صِيَامِهِ مِنْ شَعْبَانَ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan aku juga tidak pernah melihat beliau puasa sunnah dalam sebulan yang lebih banyak dari pada puasanya di bulan Sya’ban. Beliau berpuasa pada bulan Sya’ban kecuali sedikit (beberapa hari saja beliau tidak berpuasa).”

 

➡️ Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar _rahimahullah_:

ﻭﻓﻲ اﻟﺤﺪﻳﺚ ﺩﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﻓﻀﻞ اﻟﺼﻮﻡ ﻓﻲ ﺷﻌﺒﺎﻥ

“Di dalam hadits ini terdapat dalil atas keutamaan berpuasa di bulan Sya’ban.”

📚(Fathul-Bari:4/215)

➡️ Berkata Al-Allamah Ash-Shan’ani _rahimahullah_:

ﻭﺩﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻳﺨﺺ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﺑﺎﻟﺼﻮﻡ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﻏﻴﺮﻩ

(Hadits ini) terdapat dalil bahwasanya Rasulullah _shallallahu alaihi wasallam_ mengkhususkan bulan Sya’ban dengan memperbanyak puasa dari bulan lainnya.

📚 (Subulus-Salām:2/168)

✅ Dan hadits Ummu Salamah _radhiyallahu anha_ ia berkata:

لَمْ يَكُنْ  رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ مِنْ السَّنَةِ شَهْرًا تَامًّا إِلَّا شَعْبَانَ يَصِلُ بِهِ رَمَضَان

 

“Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa satu bulan penuh kecuali Sya’ban yang beliau sambung dengan Ramadhan.” (HR.Ibnu Abi Syaibah:2/285, Ahmad:6/311, At-Tirmidzi;7/603, dan Ibnu Majah:1648, sanadnya Shahih)

Perkataan Ummu Salamah: “sebulan penuh kecuali Sya’ban.’ Dan pada sebagian hadits Aisyah: “bulan Sya’ban seluruhnya.” Maksudnya adalah: sebagian besar bulan Sya’ban, sebagaimana datang penjelasannya dalam sebagian jalan hadits Aisyah: beliau berpuasa Sya’ban kecuali sedikit (beberapa hari saja beliau tidak berpuasa).

Dan boleh dalam bahasa Arab menyebut seorang yang berpuasa pada sebagian besar hari dalam sebulan: dia berpuasa sebulan penuh, dalam bab Taghlib (mayoritas). Sebagaimana dikatakan: saya shalat semalaman. (Padahal) bisa jadi ia makan malam dulu dan sibuk dengan beberapa urusannya pada malam itu (kemudian ia shalat).

◼️ Pendapat kedua:

Kebanyakan dari ulama madzhab Hanabilah tidak memandang disunnahkannya puasa Sya’ban. Mereka memaknai hadits bahwa Rasulullah _shallallahu alaihi wasallam_ berpuasa pada bulan Sya’ban bersamaan dengan Ramadhan adalah kadang-kadang, bukan secara terus menerus (setiap bulan sya’ban).

📝 Kesimpulan:

Pendapat yang kuat adalah disunnahkannya puasa di bulan Sya’ban berdasarkan perbuatan Rasulullah _shallallahu alaihi wasallam_ sebagaimana dalam hadits-hadits di atas.

📚(Lihat Kitab Asy-Syamil Limasāil Ash-Shiyām:345-346 oleh Syaikh Taufiq Al-Ba’dani hafizahullah; dengan sedikit pengembangan dari penulis.)

✍🏻 Ustadz Muhammad Abu Muhammad Pattawe hafizhahullah
🕌 Darul-Hadits Ma’bar-Yaman

https://t.me/infokajiansalafysulawesi/30772

RELATED ARTICLES
- Donasi Dakwah -spot_img
- Donasi Dakwah -spot_img

Populer Artikel

Tamu