Khutbah Jum’at:
Sabar Menghadapi Ujian, Raih Husnul Khatimah
Ustadz Abu Mu’awiyah Askary
Mukadimah
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan meminta ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan jiwa kita dan dari keburukan amal perbuatan kita. Barang siapa yang Allah beri hidayah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang mampu memberi hidayah kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ﴿١٠٢ آل عمران﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran: 102)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ﴿١ النساء﴾
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa, lalu menciptakan darinya pasangannya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kalian saling meminta, dan peliharalah silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kalian.” (QS. An-Nisa: 1)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ﴿٧٠ الأحزاب﴾. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ﴿٧١ الأحزاب﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah memperoleh kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70–71)
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan. Setiap bid‘ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. an-Nasa’i)
Dunia Sebagai Tempat Ujian
Ma’āsyiral muslimīn, ‘ibādallāh,
Sesungguhnya Allah ʿazza wa jalla menciptakan jin dan manusia dalam kehidupan dunia agar dunia ini menjadi dārul ibtilā’ (دار الابتلاء) dan juga dārul miḥan (دار المحن), yaitu tempat ujian dan cobaan. Allah Subḥānahu wa Taʿālā memberikan berbagai bentuk cobaan kepada hamba-hamba-Nya, agar tampak siapa di antara mereka yang benar-benar menempatkan dirinya sebagai hamba Allah, tunduk, taat, dan beribadah hanya kepada-Nya.
Cobaan itu datang dalam dua bentuk:
- Cobaan berupa kenikmatan, agar manusia bersyukur.
- Cobaan berupa musibah, agar manusia bersabar.
Allah jalla wa ʿalā berfirman:
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Dan Kami uji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al-Anbiyā’ [21]: 35)
Ayat ini menegaskan bahwa ujian adalah sunnatullāh yang pasti dihadapi setiap hamba. Baik nikmat maupun musibah, semuanya adalah sarana pengujian. Dan pada akhirnya, setiap manusia akan kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di dunia.
Perintah untuk Bersabar dan Dalil-dalilnya
Ma’āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
Kesabaran ketika menghadapi ujian adalah perkara yang wājib atas setiap hamba Allah. Allah jalla wa ʿalā berfirman:
وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Apabila kalian bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang diwajibkan (dan diperintahkan) oleh Allah.” (QS. Āli ʿImrān [3]: 186)
Ayat ini menegaskan bahwa bersabar dan bertakwa adalah kewajiban besar yang Allah perintahkan.
Demikian pula nasihat Luqmān al-Ḥakīm kepada putranya sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an:
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Wahai anakku, dirikanlah shalat, suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik, cegahlah dari perbuatan mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqmān [31]: 17)
Ayat ini menegaskan bahwa sabar adalah kewajiban yang tak bisa ditinggalkan.
Para ulama menyebutkan:
الصبر مُرٌّ كاسمه، لكنه أحلى في عواقبه من العسل
“Sabar itu pahit seperti namanya. Tetapi akibatnya lebih manis daripada madu.” (ʿUddat ash-Shābirīn wa Dhakhīrat asy-Syākirīn)
Seseorang yang bersabar ketika mendapat musibah akan mendapatkan kebaikan dan pahala yang dilipatgandakan oleh Allah Subḥānahu wa Taʿālā.
Seorang hamba harus selalu mengingat bahwa segala sesuatu yang dimilikinya hanyalah titipan dari Allah. Allah berhak mengambilnya kapan saja Dia kehendaki. Tugas hamba adalah bersabar, tunduk, dan ridha terhadap ketentuan-Nya.
Allah jalla wa ʿalā memuji hamba-hamba-Nya yang mampu mengembalikan segala sesuatu kepada-Nya saat ditimpa musibah, sebagaimana firman-Nya:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Sungguh, Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata: Innā lillāhi wa innā ilaihi rājiʿūn. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155–157)
Ayat ini memberikan gambaran jelas: berbagai ujian berupa rasa takut, lapar, kehilangan harta, jiwa, bahkan orang-orang yang dicintai, semuanya adalah bagian dari ujian Allah. Namun, orang-orang yang mampu bersabar mendapatkan tiga keutamaan besar:
- Salawāt dari Allah (pujian Allah kepada hamba-Nya).
- Rahmat dari Allah (ampunan dan kasih sayang-Nya).
- Petunjuk dari Allah (hidayah untuk tetap berada di jalan yang benar).
Umar bin al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu ʿanhu menafsirkan ayat ini dengan berkata:
نِعْمَ الْعِدْلَانُ وَنِعْمَ الْالْعِلَاوَةُ
Beliau menjelaskan bahwa salawāt dan rahmat dari Allah ibarat bekal yang diletakkan di kanan-kiri kendaraan (al-ʿidlān), sementara hidayah Allah ibarat barang yang diletakkan di atas punggung kendaraan (al-ʿilāwah). Semua itu adalah bekal terbaik bagi seorang hamba yang sabar dalam menghadapi ujian.
Kesabaran pada Hantaman Pertama
Ma’āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
Kesabaran yang sejati adalah ketika seorang hamba mampu menahan diri pada saat awal musibah menimpanya. Itulah yang disebut shabr ʿinda shadmatil ūlā (الصبر عند الصدمة الأولى).
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhārī dan Muslim dari Anas bin Mālik raḍiyallāhu ʿanhu diceritakan:
مَرَّ النَّبِيُّ ﷺ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ، فَقَالَ: اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي. فَقَالَتْ: إِلَيْكَ عَنِّي، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي. وَلَمْ تَعْرِفْهُ. فَقِيلَ لَهَا: إِنَّهُ النَّبِيُّ ﷺ. فَأَتَتْ بَابَ النَّبِيِّ ﷺ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ، فَقَالَتْ: لَمْ أَعْرِفْكَ. فَقَالَ: إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى.
“Suatu ketika Nabi ﷺ melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kuburan. Beliau bersabda: ‘Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.’ Wanita itu menjawab: ‘Menjauhlah dariku, engkau tidak merasakan musibahku.’ Ia belum tahu bahwa yang menasihatinya adalah Rasulullah ﷺ. Lalu ada yang berkata kepadanya: ‘Itu tadi Rasulullah ﷺ.’ Wanita itu pun mendatangi rumah Nabi ﷺ tanpa menemui penjaga di pintu, lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, aku tidak mengenalmu.’ Maka beliau bersabda: ‘Sesungguhnya kesabaran itu hanyalah ketika pada hantaman pertama.’” (HR. al-Bukhārī no. 1283, Muslim no. 926)
Banyak manusia mampu bersabar setelah beberapa waktu musibah berlalu, namun sabar yang sesungguhnya adalah ketika ia pertama kali tertimpa ujian tersebut.
Keutamaan Sabar dan Anugerah Allah bagi Hamba yang Melatih Kesabaran
Ma’āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
Sabar adalah salah satu sifat terbaik yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Dalam sebuah hadis sahih riwayat al-Bukhārī dan Muslim dari Abū Saʿīd al-Khudrī raḍiyallāhu ʿanhu, Nabi ﷺ bersabda:
وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Barang siapa berusaha menjaga kehormatan dirinya, Allah akan menjaganya. Barang siapa merasa cukup, Allah akan mencukupkannya. Barang siapa berusaha melatih kesabaran, Allah akan memberinya kesabaran. Dan tidak ada pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. al-Bukhārī no. 1469, Muslim no. 1053)
Kesabaran itu sendiri adalah sifat terbaik yang dapat dimiliki seorang mukmin. Seorang mukmin yakin bahwa segala sesuatu yang menimpanya di dunia ini berjalan sesuai takdir Allah Subḥānahu wa Taʿālā. Allah telah menetapkan segala sesuatu 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Oleh karena itu, kewajiban kita adalah berserah diri, sabar, dan yakin bahwa apa yang Allah tetapkan pasti terjadi dan itulah yang terbaik.
Allah jalla wa ʿalā berfirman:
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. at-Taghābun [64]: 11)
Demikian pula dalam hadis sahih riwayat Imam Aḥmad, Nabi ﷺ bersabda:
لَنْ يُصِيبَ عَبْدًا قَطُّ حَتَّى يَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ، وَمَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُ
“Seorang hamba tidak akan sampai kepada hakikat iman hingga ia yakin bahwa apa yang menimpanya tidak mungkin terlewat darinya, dan apa yang terlewat darinya tidak mungkin akan menimpanya.” (HR. Aḥmad no. 2664, dinyatakan sahih oleh al-Albānī)
Hadis ini mengajarkan bahwa segala sesuatu sudah ditetapkan oleh Allah. Tidak ada yang bisa menghindar dari takdir, dan tidak ada yang akan menimpa seseorang kecuali telah ditentukan untuknya.
Kesabaran Saat Kehilangan Sesuatu yang Dicintai
Ma’āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
Di antara bentuk kesabaran yang paling berat adalah ketika seseorang kehilangan orang yang dicintainya. Namun, bagi seorang mukmin, musibah besar ini justru menjadi sebab datangnya rahmat Allah jika ia mampu bersabar.
Diriwayatkan dalam hadis sahih, bahwa putri Nabi ﷺ mengirimkan seorang utusan kepada beliau untuk menyampaikan bahwa anaknya sedang sekarat. Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepada utusan itu:
ارْجِعْ إِلَيْهَا فَأَخْبِرْهَا أَنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ، وَلَهُ مَا أَعْطَى، وَكُلٌّ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى، فَمُرْهَا فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ
“Kembalilah kepada putriku, lalu katakan kepadanya: Sesungguhnya milik Allah-lah apa yang Dia ambil, dan milik-Nya pula apa yang Dia berikan. Segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ajal yang sudah ditentukan. Maka suruhlah dia agar bersabar dan mengharap pahala (dari Allah).” (HR. al-Bukhārī no. 1284, Muslim no. 923)
Hadis ini menegaskan bahwa segala sesuatu yang kita miliki hanyalah titipan Allah. Allah berhak mengambilnya kapan saja. Tugas seorang hamba adalah bersabar dan berharap pahala.
Lebih dari itu, Allah menjanjikan balasan agung bagi hamba yang mampu bersabar ketika kehilangan orang yang dicintainya. Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan:
مَا لِعَبْدِي الْمُؤْمِنِ عِنْدِي جَزَاءٌ إِذَا قَبَضْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ثُمَّ احْتَسَبَهُ إِلَّا الْجَنَّةُ
“Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang beriman ketika Aku mengambil orang yang paling dicintainya dari penduduk dunia, lalu ia bersabar dan mengharap pahala, kecuali surga.” (HR. al-Bukhārī no. 6424)
Khutbah Kedua
الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه كما يحب ربنا ويرضى.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلوات ربي وسلامه عليه وعلى آله وصحبه وسلم تسليمًا كثيرًا.
أمّا بعد:
Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah sebagaimana yang dicintai dan diridai oleh Rabb kita.
Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
Husnul Khatimah: Penutup Kehidupan yang Baik
Maa‘syiral muslimīn, jemaah Jumat yang berbahagia,
Bukanlah hal yang terpenting dalam kehidupan kita mengetahui kapan kita mati dan kapan kita dipanggil oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Akan tetapi yang lebih penting dan harus menjadi perhatian kita semua adalah bagaimana akhir kehidupan kita, apakah berakhir dengan ḥusnul khātimah atau sebaliknya.
Amal Tergantung Penutupnya
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ»
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)
“Sesungguhnya amalan itu tergantung pada penutupnya.”
Apabila seorang hamba menutup kehidupannya di dunia dengan amal saleh, maka itu merupakan tanda kebaikan baginya.
Kisah Sahabat yang Wafat di Arafah
Dalam riwayat al-Bukhārī dan Muslim dari hadis Ibnu ‘Abbās raḍiyallāhu ‘anhumā, diceritakan bahwa ada seorang sahabat Nabi ﷺ yang wafat di Padang Arafah ketika sedang wuqūf. Ia terjatuh dari kendaraannya hingga meninggal dalam keadaan berihram.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepada para sahabat:
«اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْهِ، وَلَا تُحَنِّطُوهُ، وَلَا تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ، فَإِنَّهُ يُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَبِّيًا»
(HR. al-Bukhārī no. 1265, Muslim no. 1206)
“Mandikanlah ia dengan air dan daun bidara, kafanilah dengan dua lembar kain ihramnya, jangan diberi wangi-wangian, dan jangan pula ditutup kepalanya. Sesungguhnya ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bertalbiyah.”
Kondisi Syuhada di Hari Kiamat
Demikian pula dalam hadis sahih yang diriwayatkan al-Bukhārī, Rasulullah ﷺ menyebutkan keadaan orang yang mati syahid:
«مَا مِنْ أَحَدٍ يُجْرَحُ فِي سَبِيلِ اللهِ –وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُجْرَحُ فِي سَبِيلِهِ– إِلَّا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَجُرْحُهُ يَثْعَبُ دَمًا، اللَّوْنُ لَوْنُ الدَّمِ، وَالرِّيحُ رِيحُ الْمِسْكِ»
(HR. al-Bukhārī no. 2803, Muslim no. 1876)
“Tidaklah seseorang terluka di jalan Allah –dan Allah lebih mengetahui siapa yang benar-benar terluka di jalan-Nya– melainkan ia akan datang pada hari kiamat dengan lukanya yang masih mengalir darah. Warnanya warna darah, tetapi baunya adalah bau kasturi.”
Ini menunjukkan bahwa siapa pun yang menutup kehidupannya dengan amal saleh, maka itu merupakan kebaikan besar dan tanda bahwa Allah meridhainya.
Dibangkitkan Sesuai Kondisi Kematian
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
«يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ»
(HR. Muslim no. 2878)
“Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan kematiannya.”
Maka orang yang wafat dalam keadaan beribadah, ia akan dibangkitkan dalam kondisi beribadah. Demikian pula orang yang wafat dalam keadaan maksiat, ia akan dibangkitkan dalam keadaan yang buruk itu.
Keutamaan Menuntut Ilmu
Demikian pula seorang hamba yang keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah. Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ»
(HR. Muslim no. 2699)
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
Doa Penutup
Semoga Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā senantiasa memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua, dan semoga Allah ‘Azza wa Jalla menganugerahkan kepada kita ḥusnul khātimah: kematian yang baik, kematian yang diridhai dan dicintai oleh Allah.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
—
Sumber: Transkrip rekaman
https://t.me/AudioThalabIlmuSyar_i/21904
https://telegra.ph/Khutbah-Jumat-Sabar-Menghadapi-Ujian-Raih-Husnul-Khatimah-09-07



