APA YANG KITA UCAPKAN JIKA SAUDARA KITA MENGUCAPKAN “JAZAKALLAHU KHAERAN”?
Ini adalah beberapa fatwa yang bermanfaat dari Al-Allamah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah Ta’ala, menjawab beberapa pertanyaan setelah Beliau menjelaskan hadits Usamah bin Zaid radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
من صُنِعَ إليه مَعْرُوفٌ فقال لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ الله خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ في الثَّنَاءِ
_“Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan : Jazaakallahu khairan (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.”_
(𝐇𝐑.𝐀𝐭-𝐓𝐢𝐫𝐦𝐢𝐝𝐳𝐢 (𝟐𝟎𝟑𝟓), 𝐀𝐧-𝐍𝐚𝐬𝐚𝐚𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐀𝐥-𝐤𝐮𝐛𝐫𝐚 (𝟔/𝟓𝟑), 𝐀𝐥-𝐌𝐚𝐪𝐝𝐢𝐬𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐀𝐥-𝐦𝐮𝐤𝐡𝐭𝐚𝐫𝐚𝐡: 𝟒/𝟏𝟑𝟐𝟏, 𝐈𝐛𝐧𝐮 𝐇𝐢𝐛𝐛𝐚𝐧: 𝟑𝟒𝟏𝟑, 𝐀𝐥-𝐁𝐚𝐳𝐳𝐚𝐫 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐦𝐮𝐬𝐧𝐚𝐝𝐧𝐲𝐚:𝟕/𝟓𝟒. 𝐇𝐚𝐝𝐢𝐭𝐬 𝐢𝐧𝐢 𝐝𝐢𝐬𝐡𝐚𝐡𝐢𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐀𝐥-𝐀𝐥𝐛𝐚𝐧𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐬𝐡𝐚𝐡𝐢𝐡 𝐓𝐢𝐫𝐦𝐢𝐝𝐳𝐢)
Berikut ini fatwa Al-Allamah Abdul Muhsin hafizhahullah, semoga bermanfaat.
1 Pertanyaan 1:
Sebagian ikhwan ada yang menambah pada ucapannya dengan mengatakan,
(جزاك الله خيرا وزوجك بكرا)
“jazakallaahh khairan wa zawwajaka bikran”_(semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dan menikahkanmu dengan seorang perawan)_
dan yang semisalnya. Bukankah tambahan ini merupakan penambahan dari sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana beliau mengatakan “sungguh dia telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya?
Beliau menjawab:
Tidak perlu (penambahan) do’a seperti ini, sebab boleh jadi (orang yang dido’akan) tidak menginginkan do’a yang disebut ini. Boleh jadi orang yang dido’akan do’a ini tidak menghendakinya.
Seseorang mendoakan kebaikan, dan setiap kebaikan sudah mencakup dalam keumuman doa ini. Namun jika seseorang menyebutkan do’a ini, bukan berarti bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang untuk menambah dari do’a tersebut.
Namun beliau hanya mengabarkan bahwa ucapan ini telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya. Namun seandainya jika dia mendo’akan dan berkata:
(جزاك الله خيرا وبارك الله فيك وعوضك خيرا)
“Jazakallahu khairan wabarakallahu fiik wa ‘awwadhaka khairan” (semoga Allah membalas kebaikanmu dan senantiasa memberkahimu dan menggantimu dengan kebaikan pula”)
Maka hal ini tidak mengapa.
Sebab Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang adanya tambahan do’a. Namun tambahan do’a yang mungkin saja tidak pada tempatnya, boleh jadi yang dido’akan dengan do’a tersebut tidak menghendaki apa yang disebut dalam do’a itu.
2 Pertanyaan 2:
Ada sebagian orang berkata: “Ada sebagian pula yang menambah tatkala berdo’a dengan mengatakan :
(جزاك الله ألف خير)
Jazaakallahu alfa khaer” (semoga Allah membalasmu dengan seribu kebaikan?”
Beliau -hafidzahullah- menjawab:
“Demi Allah, kebaikan itu tidak ada batasnya, sedangkan kata seribu itu terbatas, sementara kebaikan tidak ada batasnya. Ini seperti ungkapan sebagian orang “beribu-ribu terima kasih”, seperti ungkapan mereka ini. Namun ungkapan yang disebutkan dalam hadits ini bersifat umum.”
3 Pertanyaan 3:
Apakah ada dalil bahwa ketika membalasnya dengan mengucapkan,
(وإياكم)
“wa iyyakum” (dan kepadamu juga)?
Beliau menjawab:
“Tidak, sepantasnya dia juga mengatakan,
(وجزاكم الله خيرا)
“WAJAZAKUMULLAAHU KHAIRAN” (Dan semoga Allah membalasmu kebaikan pula),
yaitu dido’akan sebagaimana dia berdo’a, meskipun perkataan seperti “wa iyyakum” sebagai athaf (mengikuti) ucapan “jazaakum”, yaitu ucapan “wa iyyakum” bermakna “sebagaimana kami mendapat kebaikan, juga kalian”,
Namun jika dia mengatakan,
أنتم جزاكم الله خيرا
“Antum jazaakumullaahu khairan” dan menyebut do’a tersebut secara nash, tidak diragukan lagi bahwa hal ini lebih utama dan lebih afdhal.”
Diterjemahkan oleh
Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal حفظه الله
(𝐓𝐫𝐚𝐧𝐬𝐤𝐫𝐢𝐩 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐤𝐚𝐬𝐞𝐭: 𝐃𝐮𝐫𝐮𝐬 𝐒𝐲𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐒𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐀𝐭-𝐓𝐢𝐫𝐦𝐢𝐝𝐳𝐢, 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐀𝐥-𝐀𝐥𝐥𝐚𝐦𝐚𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐌𝐮𝐡𝐬𝐢𝐧 𝐀𝐥-𝐀𝐛𝐛𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐟𝐢𝐝𝐳𝐚𝐡𝐮𝐥𝐥𝐚𝐡,𝐤𝐢𝐭𝐚𝐛 𝐀𝐥-𝐁𝐢𝐫𝐫 𝐰𝐚 𝐀𝐬𝐡-𝐒𝐡𝐢𝐥𝐚𝐡, 𝐧𝐨𝐦𝐨𝐫 𝐡𝐚𝐝𝐢𝐭𝐬: 𝟐𝟐𝟐).




